WAWANCARA
PANDUAN LENGKAP SENI
BERKOMUNIKASI, TEKNIK, DAN STRATEGI
Pengertian, Sejarah, Klasifikasi, Serta Implementasi Konkret di Kancah Domestik
dan Global
1. PENDAHULUAN
Komunikasi
merupakan fondasi utama dari peradaban manusia. Dalam berbagai aspek kehidupan,
baik untuk menggali kebenaran berita, menyeleksi kandidat pekerja terbaik,
hingga melakukan penelitian ilmiah, manusia membutuhkan sebuah metode
penggalian informasi yang sistematis. Instrumen krusial yang digunakan
untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah Wawancara.
Wawancara bukan sekadar obrolan santai tanpa arah, melainkan sebuah seni
interaksi terstruktur yang memerlukan keterampilan mendengarkan secara aktif,
merumuskan pertanyaan taktis, serta membaca dinamika psikologis lawan bicara.
Dalam panduan komprehensif ini, kita akan membahas
tuntas materi pokok wawancara, mulai dari sejarah perkembangannya, aspek
kebahasaan, definisi para ahli, klasifikasi jenis, hingga penerapannya dalam
kehidupan nyata baik sebagai warga negara maupun dalam pergaulan internasional.
2. SEJARAH, ARTI KATA SECARA BAHASA
(ETIMOLOGI) DAN ISTILAH PADA JUDUL
Praktik wawancara
memiliki sejarah panjang yang berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan
jurnalisme. Di dunia Barat, wawancara mulai berkembang pesat pada abad ke-19,
seiring dengan lahirnya industri pers modern di Amerika Serikat dan Eropa. Salah
satu wawancara jurnalistik pertama yang tercatat dalam sejarah dilakukan oleh
James Gordon Bennett Sr. pada tahun 1836 untuk surat kabar New York Herald. Di sisi lain, dunia psikologi klinis dan sosiologi
juga mulai mengadopsi metode ini sebagai teknik diagnosis dan pengumpulan data
kualitatif sejak awal abad ke-20, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh riset
sosial.
Untuk memahami
konsep ini secara utuh, mari kita bedah arti kata pada judul materi pokok
berdasarkan sudut pandang bahasa (etimologi) dan istilah ilmiah:
·
Arti secara Bahasa (Etimologi): Dalam bahasa Inggris, wawancara disebut
sebagai interview. Istilah ini
berakar dari bahasa Prancis Kuno, yaitu entrevoir
yang berarti 'melihat satu sama lain' atau 'saling bertemu'. Sementara itu,
dalam bahasa Indonesia, kata wawancara
terbentuk dari gabungan kata 'wawan' (saling/berbalasan) dan 'cara' atau
'wicara' (berbicara). Jadi, secara harfiah, wawancara berarti aktivitas saling
berbicara atau bertukar pikiran antara dua pihak.
· Arti secara Istilah: Secara istilah ilmiah, wawancara adalah sebuah metode komunikasi lisan yang
dilakukan secara tatap muka atau melalui media digital oleh dua pihak atau
lebih, yang terdiri atas pewawancara (interviewer)
dan narasumber/terwawancara (interviewee),
dengan tujuan spesifik untuk memperoleh informasi, data, pandangan, atau
konfirmasi mengenai suatu hal.
3. DEFINISI WAWANCARA MENURUT PARA AHLI
DAN SECARA UMUM
Beberapa pakar
metode penelitian dan komunikasi memberikan definisi teoretis mengenai
wawancara untuk memperkuat akurasi materi pokok ini:
·
Sugiyono: Menjelaskan bahwa wawancara digunakan sebagai
teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan
untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti
ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam.
·
Lexy J.
Moleong: Mendefinisikan wawancara sebagai percakapan dengan maksud
tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang
mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan
itu.
·
Charles
Stewart dan W.B. Cash: Menyatakan bahwa wawancara adalah proses komunikasi
interaksional dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, melibatkan dua
pihak, dan biasanya menggunakan format tanya jawab.
Secara umum, wawancara
dapat dirangkum sebagai proses interaksi verbal yang dinamis dan terarah, di
mana informasi mengalir dari narasumber kepada pencari informasi berdasarkan
panduan pertanyaan yang disusun demi mencapai tujuan profesional, baik
akademis, jurnalistik, maupun korporat.
4. KLASIFIKASI JENIS WAWANCARA DAN CONTOH LENGKAPNYA
Dalam studi komunikasi dan metodologi, materi penting
mengenai jenis-jenis wawancara dibagi berdasarkan sifat struktur perilakunya
dan tujuan pelaksanaannya:
4.1 Berdasarkan Tingkat Struktur Pelaksanaan
• Wawancara
Terstruktur: Pewawancara menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun
secara ketat dan tertulis. Tidak ada ruang untuk improvisasi pertanyaan di luar
draf.
Contoh: Sensus penduduk oleh petugas
BPS, di mana setiap kepala keluarga ditanyakan pertanyaan yang persis sama:
"Berapa jumlah anggota keluarga Anda? Apa pekerjaan utama Anda?"
• Wawancara
Semi-Terstruktur (Bebas Terpimpin): Pewawancara membawa garis besar panduan
topik (*interview guide*), namun dapat mengembangkan pertanyaan baru secara
fleksibel tergantung pada jawaban narasumber.
Contoh: Wawancara penelitian skripsi
tentang dampak psikologis belajar daring: "Bagaimana perasaan Anda saat
belajar mandiri?" Lalu
pewawancara menimpali, "Mengapa Anda merasa jenuh pada jam tersebut?"
• Wawancara Tidak Terstruktur (Bebas): Percakapan mengalir secara natural tanpa
draf pertanyaan formal, mirip obrolan santai, namun pewawancara tetap fokus
mengarahkan pembicaraan untuk menggali data tersembunyi.
Contoh: Seorang jurnalis investigasi
berbincang di warung kopi dengan saksi kunci sebuah kasus korupsi untuk
membangun kepercayaan psikologis.
4.2 Berdasarkan Tujuan
Fungsional/Profesional
• Wawancara Kerja (Job Interview): Digunakan oleh perusahaan (HRD) untuk
menilai kelayakan, kompetensi, karakter, dan visi seorang pelamar kerja.
Contoh: "Ceritakan tantangan
terbesar yang pernah Anda selesaikan di tempat kerja sebelumnya dan bagaimana
strategi Anda mengatasinya?"
• Wawancara Jurnalistik (News Interview): Dilakukan oleh wartawan atau pembawa acara
berita untuk menggali fakta, opini, atau klarifikasi dari tokoh publik mengenai
isu yang sedang hangat.
Contoh: Wartawan bertanya kepada
menteri transportasi: "Apa langkah konkret kementerian untuk mengatasi
kemacetan parah di jalur mudik tahun ini?"
5. PENERAPAN NYATA DALAM KEHIDUPAN
SEHARI-HARI
Keahlian
melakukan wawancara dan menjawab pertanyaan tidak terbatas pada profesi
wartawan atau HRD saja. Teknik wawancara diaplikasikan secara luas dalam
interaksi sosial sehari-hari untuk mengoptimalkan pemecahan masalah:
5.1 Penerapan di Lingkungan Rumah dan
Keluarga
Di dalam rumah,
disadari atau tidak, orang tua sering menerapkan teknik wawancara bebas terpimpin kepada anak-anak mereka untuk memahami
kondisi emosional anak tanpa memicu rasa tertekan. Contoh kalimatnya: "Bagaimana suasana di sekolah hari ini? Ada
hal menarik yang membuatmu senang?". Sebaliknya, anak juga dapat
mewawancarai kakek atau nenek untuk menyusun silsilah keluarga atau memahami
sejarah masa lalu orang tua mereka. Ini membangun ikatan emosional (family bonding) yang kokoh berbasis
keterbukaan.
5.2 Penerapan di Lingkungan Sekolah dan
Akademik
Di sekolah, siswa
mempraktikkan materi ini secara intensif. Mulai dari seleksi masuk organisasi
siswa (OSIS), wawancara majalah dinding (mading) sekolah, hingga pengumpulan
data untuk tugas kelompok sosiologi. Siswa belajar mengajukan pertanyaan
yang etis, mendengarkan argumen teman, dan tidak memotong pembicaraan. Contoh
nyatanya adalah ketika pengurus OSIS mewawancarai calon anggota baru: "Apa motivasi Anda bergabung dan bagaimana
Anda membagi waktu antara belajar dan organisasi?". Hal ini melatih mentalitas kepemimpinan dan rasa
percaya diri siswa sejak usia dini.
5.3 Penerapan di Lingkungan Masyarakat dan Warga Negara
Sebagai warga negara yang aktif, wawancara menjadi alat
kontrol sosial dan pelayanan publik. Pengurus RT/RW menggunakan teknik wawancara saat melakukan pendataan warga
miskin atau pendaftaran jaminan kesehatan agar bantuan tepat sasaran. Di sisi
lain, warga negara menggunakan hak bertanyanya secara kritis dalam forum
musyawarah desa untuk meminta pertanggungjawaban anggaran, misalnya: "Bisa dijelaskan rincian alokasi dana
perbaikan jalan desa yang dianggarkan bulan lalu?". Ini memicu
transparansi dan memperkuat pilar demokrasi di tingkat akar rumput.
5.4 Penerapan di Lingkungan
Internasional (Masyarakat Luar Negeri)
Dalam panggung
komunikasi internasional, kemampuan wawancara lintas budaya (cross-cultural interviewing) adalah
kunci sukses. Ketika Anda mengajukan visa di kedutaan asing, petugas imigrasi
akan melakukan wawancara terstruktur untuk
memastikan tujuan kunjungan Anda. Contoh pertanyaan imigrasi: "What is the primary purpose of your visit to
our country? How long do you intend to stay?" (Apa tujuan utama
kunjungan Anda? Berapa lama Anda berniat tinggal?). Kegagalan memahami esensi
pertanyaan wawancara internasional dapat mengakibatkan penolakan visa atau
deportasi.
6. URGENSI LITERASI WAWANCARA: HAL MENARIK & DAMPAK BURUK JIKA
DIABAIKAN
6.1 Hal Menarik dari Seni Wawancara yang
Perlu Anda Ketahui
Sisi paling
memikat dari materi wawancara adalah kemampuannya menembus benteng psikologis
seseorang melalui teknik mikro-komunikasi. Seorang pewawancara ulung mampu
membaca bahasa tubuh (body language),
perubahan nada suara (*intonasi*), hingga gerakan mata narasumber untuk
mendeteksi kebohongan atau keraguan. Program gelar bincang-bincang (*talkshow*)
populer dunia seperti Oprah Winfrey atau di Indonesia seperti Mata Najwa dan siniar (*podcast*) Deddy
Corbuzier berhasil meraup jutaan pemirsa dan keuntungan finansial besar justru
karena kekuatan teknik wawancara mereka yang atraktif dan mendalam. Wawancara
adalah kunci pembuka rahasia informasi.
6.2 Dampak Buruk dan Kerugian Fatal Jika
Mengabaikan Materi Ini
Jika masyarakat
menganggap remeh materi wawancara dan tidak melatih keterampilannya, maka
mereka akan menghadapi kerugian sistemik berikut:
·
Gagal Total dalam Wawancara Kerja
(Pengangguran): Banyak
lulusan sarjana pintar yang memiliki nilai IPK tinggi tetapi tetap menganggur.
Penyebab utamanya adalah mereka tidak menguasai teknik menjawab wawancara kerja. Mereka menjawab dengan
terbata-bata, tidak relevan, sombong, atau terlalu pasif, sehingga membuat
perusahaan langsung mengeliminasi mereka.
·
Mudah Menjadi Korban Penipuan (Hoaks): Masyarakat yang tidak tahu cara
mengonfirmasi informasi melalui teknik wawancara dasar akan mudah menelan
mentah-mentah berita bohong. Mereka tidak punya mentalitas kritis untuk
bertanya "Siapa sumbernya? Apa buktinya?" sehingga mudah dimanipulasi
oleh oknum penipu investasi bodong atau provokator politik.
·
Kegagalan Validitas Riset Akademik dan
Bisnis: Bagi mahasiswa
atau periset pasar, ketidakmampuan menyusun draf pertanyaan wawancara yang
objektif akan menghasilkan data yang bias, dangkal, dan tidak valid. Akibatnya,
kesimpulan skripsi menjadi cacat akademis atau strategi pemasaran produk baru
perusahaan berujung pada kebangkrutan karena data pasar yang salah.
· Kaku dalam Hubungan Sosial dan Interpersonal: Orang yang minim kemampuan bertanya secara
interaktif cenderung menjadi teman bicara yang membosankan (egois). Hubungan
sosialnya kaku karena ia tidak tahu cara menunjukkan empati melalui pertanyaan
pendalaman yang tulus, sehingga dijauhi dalam jaringan pergaulan profesional
maupun pertemanan.
7. KESIMPULAN
Materi pokok
mengenai Wawancara bukan sebatas
materi hafalan teori linguistik demi kelulusan mata pelajaran bahasa semata.
Wawancara adalah manifestasi tertinggi dari kecerdasan sosial, taktik
komunikasi, dan empati kemanusiaan. Melalui pemahaman mendalam tentang sejarah,
definisi, serta penguasaan jenis-jenis wawancara, kita ditempa menjadi pribadi
yang kritis, analitis, dan adaptif. Keterampilan ini menjadi pembeda utama
antara individu yang sukses memenangi karier impian dengan mereka yang
tertinggal dalam persaingan era digital global. Mari asah seni bertanya dan
mendengarkan kita, karena informasi berharga hanya akan terbuka bagi mereka
yang tahu cara bertanya dengan bijaksana!
Baca Juga : KALIMAT EFEKTIF

